Sabtu, 26 Agustus 2017

Dekat

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ "

Kalian pernah denger ayat ini? 

Iya, Surat Al-Anfal ayat 2 yang artinya "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah bergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal."

Huh, aku rindu sekali dengan pondok. Hanya di sana, setiap hari, setiap waktu bisa mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Bagaimana tidak, toh pondok isinya hanya santri-santri yang setiap harinya mengerjakan amal solih (kebaikan).  

Ayat di atas itu, adalah salah satu ayat favoritku. Saat aku mondok di sebuah Pesantren di daerah Bogor, ada sesi nasehat, lalu ada seorang guru yang menyebutkan ayat itu. Hatiku tertegun sejenak ketika mendengarkan ayat itu. Aku melamun, sepertunya aku pernah dan sering merasakan hal tersebut. Aku pernah merasa sangat dekat dengan Al-qur'an. Kamu pernah? Seperti ini rasanya, ketika kamu mulai membaca ayat-ayat Al-qur'an, padahal kamu belum begitu mengerti arti dan makna dari ayat tersebut, tetapi kamu seperti tidak ingin berhenti untuk membacanya. Kamu ingin terus membacanya. Ya, aku merasakannya saat aku mulai mondok beberapa waktu lalu  itu.

Di pondok, aku menemukan berbagai macam karakter orang dari berbagai daerah. Dengan sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang orangnya bersih, cekatan, piawai dalam memasak, ada juga orang yang berantakan sekali. 

Pertama kali aku mondok, aku tidak begitu ingat tanggal berapa, yang pasti aku hanya mengingat bulan dan tahunnya yaitu Maret 2016. Aku yang tidak pernah mondok ini, dan minim sekali tentang pengetahuan agama, untuk pertama kalinya di tempat ini aku bertekad untuk bisa menjadi seorang penghafal Al-qur'an. Awalnya aku ragu. Aku tidak bisa. Sebab, aku ini termasuk orang yang sulit menghafal. Aku juga suka sekali dengan musik. Aku suka bernyanyi, ya bernyanyi sendiri, di atas motor, di kelas, sampai-sampai dulu aku suka karaoke bersama teman-teman SMAku. Makanya aku ragu untuk bisa mneghafal Al-qur'an.

Tetapi suatu hari, aku bertemu dengan seorang santriwati yang umurnya lumayan jauh di bawahku. Dia adalah seorang penghafal Al-qur'an. Dia cantik, dan pembawaannya anggun. Aku tertarik mendengar suaranya ketika dia melantunkan ayat-ayatnya Allah pada saat pengajian berlangsung. Setelah kegiatan pengajian selesai, aku mencoba berkenalan dengan dia, karena dia adalah santri baru. Aku tanya dia berasal dari daerah mana, umurnya berapa. Aku kaget, dia baru berumur 14 tahun yang pada saat itu aku sudah berusia 18 tahun. Karena aku sangat penasaran dia sudah memiliki hafalan Al-qur'an berapa juz, akhirnya aku tanyakan padanya. Aku sedikit lupa, kalau tidak salah sekitar hampir 10 juz sudah dia hafal Al-quran (hmm atau lebih ya?) Lalu aku bertanya padanya, "Kamu kok mondok? Ga lanjut sekolah?" Karena pada saat itu pondokku bukan pondok yang disertai kurikulum sekolah. Terus dia jawab "Aku mau fokus hafalin qur'an mba. Aku pengen bahagiain orang tua aku." Terus aku bertanya lagi, "Bahagiain orang tua? Maksudnya? Apa motivasi kamu ngafalin qur'an?" Terus dia jawab dengan pembawaannya yang tenang itu "Aku ingin memberikan mahkota yang terangnya seperti matahari ketika di surga nanti kepada kedua orang tuaku mba." Aku diam, lalu dia melanjutkan bicaranya "Kalo aku ga bisa bahagiain orang tua aku di dunia, setidaknya aku bisa melakukan hal itu saat di akhirat nanti." Lagi-lagi aku diam mendengar jawabannya. Lalu obrolan kami diakhiri dengan sedikit canda tawa.

Karena anak itu, aku jadi makin termotivasi untuk bisa menghafal Al-qur'an. Dan ternyata, aku tidak usah lagi khawatir karena ada yang namanya Sholat Khifdzi. Salah satu amalan sholat yang bisa menjaga hafalan-hafalan kita, apapun itu. Mulai dari urusan duniawi seperti hafalan materi belajar, pun hafalan Al-qur'an yang kita punya. Aku memulai hafalan Al-qur'an saat sudah 3 bulan mondok di Bogor. Pada saat itu, aku juga punya kenalan santriwati yang bisa Qiroah. Suaranya merduuu sekali. Aku iri, aku ingin bisa seperti dia. Tapi, saat itu rasa iriku hanya sebatas kagum, aku masih fokus untuk bisa memperbaiki Makhrojul huruf dan Tajwid bacaanku. 

Selang beberapa bulan, aku pindah mondok. Hehe karena beberapa alasan, aku pindah mondok ke Cianjur. Saat itu kelas pengajian siang, aku masih ingat betul tempatnya, di teras samping masjid, lalu guru yang mengajar saat itu tiba-tiba menanyakan kepada semua santrinya apakah  sudah punya hafalan Al-qur'an. Dan aku, juga ada satu lagi murid yang namanya disebut dan ditanyakan langsung. Beliau berkata, "Lanjutkan ya ndo." 

Januari 2017, pada saat itu muncul ijtihad bahwa Sholat Khifdzi dimansuh karena sanadnya yang dhoif. Akhirnya yang bisa diamalkan hanya sebatas doanya saja. Aku sangat sedih pada saat itu, karena entah memang sugestiku atau apapun itu, jika aku tidak Sholat Khifdzi, aku merasa hafalan aku buyar. Mulai dari situ, aku kendor untuk menghafal Al-qur'an lagi karena rasa kekhawatiranku ini.

Tapi, saat kemarin aku mengikuti test masuk kuliah dan ternyata lulus. Aku teringat akan bunyi surat Muhammad ayat 7 yang isi artinya kira-kira begini "Jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.". Terus aku mikir, apa karena aku dulu sempet mondok dan punya hafalan qur'an ya? (Walaupun baru juz amma sih hehehehe). Jadi semua Allah bikin mudah. Waktu test masuk kuliah kemarin itu aku ngerasa emang ga susah-susah banget sih, kaya yaudah aku bisa gitu ngerjainnya, dan engga sesulit soal SBMPTN >.< alhasil jadi makin pede dan ternyata Alhamdulillahhh lulus. 

Orang yang pertama kali aku kabarin itu Ayah. Kemarin kebetulan pas aku di kamar abis liat hasil pengumuman, Ayah ada di ruang tamu. Terus aku bilang "Yah.. alhamdulillah lulus. Gimana nih diambil apa ngga?" terus Ayah jawab, "Ya terserah. Kalo emang itu udah pilihan neng Tia, ayah cuma bisa dukung." Terus aku diem, hehe. Gatau, kaya terharu aja gitu. 

Karena kejadian ini, aku jadi termotivasi buat lanjut hafalin Qur'an lagi deh. Aku pengen bangettt bisa hafal Qur'an. Walaupun aku juga ga bisa yakin bisa hafal 30 juz, pengen gitu 5 juz minimal lah, mimpinya kependekan ya? Ah emang anaknya gini haha. Terus nanti punya suami yang penghafal Qur'an juga, masyaa Allah... bisa ga ya? Insyaa Allah bisa, aamiin. Zaman sekarang tuh ngeri banget soalnya kalo kita ga punya pondasi agama dan keimanan yang kuat dalam diri kita, kalo kita punya hafalan Al-qur'an insyaa Allah itu bisa jadi tameng tersendiri, terlebih lagi buat nge-charge keimanan kita. 

Mudah-mudahan, dengan adanya nikmat dari Allah ini, aku dikasih kemudahan bisa lulus test kuliah, ga bikin aku jadi kufur nikmat. Udah dikasih kemudahan dalam urusan dunia, masa lupa sama urusan akhiratnya? 

Eh eh, bentar. Kok jadi curhat ya hahahaha. Kemarin aku abis publish satu postingan gitu di blog ini tentang fiksi romance buatanku. Ada yang liat ga ya? Ih malu bangettt. Gatau ah, palingan nanti aku arsip. Ini aja belum aku post, masih disimpen di draft, hahaha gajelas banget. Yaudahlah segitu dulu, semoga kita semua bisa selalu memperbaiki diri setiap harinya ya, aamiin. See you temen-temen!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar