Rabu, 08 September 2021

Abah dan Corona Virus Disease 2019

 "Udah masuk Indonesia?" kata seseorang yang sedang berbicara di telepon, dengan temannya, di sebelahku.

Hari itu, 2 Maret 2020. Kabar mengenai infeksi penyakit dari Corona Virus Disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan Covid 19, telah masuk Indonesia. Tepatnya di daerah Depok, Jawa Barat. Kota tempat aku tinggal, bersama keluargaku. Tidak lama kemudian, seminggu setelah itu, Badan Kesehatan Dunia mendeklarasikan Covid 19 sebagai Pandemi.

Tak sedikit kekacauan dan kekhawatiran yang diakibatkan dari pandemi itu sendiri. 

Ayahku, orang yang sangat khawatir dan sangat amat takut akan pandemi Covid 19. Ia sangat takut anggota keluarganya terpapar oleh virus itu. Sampai-sampai, jika aku pergi keluar rumah, Ayah yang tak pernah lupa mengingatkan aku untuk selalu menjaga protokol kesehatan. 

Pernah suatu hari, aku pergi main keluar bertemu beberapa teman-temanku. Aku bermain di rumah, bukan di tempat umum. Tapi ketika aku pulang, Ayah begitu marah karena mengetahui aku pergi keluar rumah. Rasanya aku sangat menyesal saat itu, sudah buat Ayah marah. Aku sendiri tidak bisa menahan rasa bosanku itu. Sudah hampir setengah tahun kami semua hanya berdiam diri di rumah. Yang keluar hanya salah satu saja untuk membeli keperluan di rumah, atau kami belanja online. Saat Ayah marah, aku bukannya menerima kesalahanku sendiri, tetapi akupun ikut kesal. Aku berfikir, toh di luar sana aku selalu menjaga protokol kesehatan. Sebelum ada pandemi ini, sudah dari zaman kuliah aku mempunyai kebiasaan membawa hand sanitizer, tissue kering bahkan tissue  basah selalu tersedia di dalam tasku. Ditambah pandemi ini, aku adalah orang yang sangat overprotektif terhadap kebersihan. Tetapi tak lama aku langsung menyadari kesalahanku. 

Dua bulan yang lalu, kami sekeluarga pada akhirnya terpapar virus Covid 19. Semuanya. Oh, tidak. Ada satu anggota keluargaku yang tidak terpapar, dia adalah kakak sulungku, mungkin karena dia sudah melakukan vaksinasi Covid19, jadi tidak terpapar. 

Virus ini luar biasa hebat. Rasa sakit yang dirasakan ini tidak akan pernah aku lupakan. Semua peristiwa ini tidak akan pernah aku lupakan. Karena virus ini juga, Ayahku akhirnya meninggalkan kami semua untuk selamanya. Huh, sampai detik ini saja aku masih meneteskan air mata. Begitu besarrr rasa penyesalanku terhadap Ayah. 

Hari ini, aku sedang tidak baik-baik saja. Aku rindu Ayahku. Aku yang tidak dekat dengan Ayah, seolah-olah memori menghabiskan waktu bersama Ayah saat kecil dulu, teringat kembali. Kata-kata Ayah yang pernah dilontarkannya kepadaku, aku jadi ingat lagi. Padahal tak banyak, tak seberapa, tapi aku jadi ingat betul detailnya. Saat dulu pergi ke toko buku menemani Ayah, beli ice cream cone sepulang dari toko buku, ikut Ayah ke kantor dan aku tertidur di kursi kerja Ayah, semuanya aku ingat kembali. Beberapa temanku ada yang pernah kehilangan Ayahnya, lalu terbesit dalam pikiranku, "Ya Allah, apa rasanya ya ditinggal orang tua." Selalu begitu dan aku tidak pernah bisa meneruskan atau membayangkannya, tetapi saat ini aku mengalaminya sendiri., aku berada di posisi mereka. Ya, memang setiap dari akan merasakan ajalnya. Tapi kepergian Ayah, seakan-akan bak petir yang menyambar di siang hari yang terik. Aneh, tak disangka dan tak terduga, seperti masih mimpi. 

Mengetik kalimat-kalimat di atas itu aku sambil menangis. Ya ampun, aku ini memang cengeng sekali. Padahal aku ingat betul nasehat Ayah, "harus jadi anak perempuan yang kuat." Maaf Yah, anaknya lemah. Ankanya tumbuh menjadi seorang perempuan yang lemah, selalu terbawa perasaan. 

Teruntuk kalian yang mungkin membaca ini, dan kalian masih mempunyai Ayah. Jaga baik-baik Ayah kalian. Utamanya Ibu, pastinya. Buatlah memori dengan orangtua kalian sebanyak mungkin.

Ttd, Tia yang sedang berusaha kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar